Minggu, 28 November 2010

80 % AKHWAT PECUNDANG…???

Dia adalah seorang karyawati sebuah opereator cellular terbesar di Indonesia, sebagai seorang karyawati tentu juga seperti karyawan yang lain, waktunya terikat dengan absen. Disela kesibukannya bekerja ia masih mampu meluangkan waktu untuk berbakti demi kepentingan social, ia luangkan waktu liburnya untuk anak-anak jalanan, ia mendampingi mereka belajar dan sesekali ia juga menyumbangikan fasilitas belajar dengan Cuma-cuma.


Disudut kota metropolitan ini, di lingkungan yang tidak kondusif untuk melakukan kegiatan belajar- mengajar, ditengah kondisi social kemasyarakatan yang kurang memahami arti sebuah pendidikan ia berusaha turut berjuang mencerdaskan bangsa.


Ahkwat…? Dia bukan akhwat (sebutan yang diberikan kepada kelompok wanita dewasa dalam sebuah komunitas dakwah), dia tidak berjilbab besar, dia juga tidak bermurabbi, dia juga tidak tergabung dalam komunitas dakwah, dia hanyalah wanita biasa yang merasa terketuk hatinya.


Lalu kemanakah ahwat yang kita kenal selama ini…?? Ahwat yang katanya pecinta dakwah, akhwat dengan jilbab besarnya, ahwat yang seringkali mengagungkan murobbinya, akhwal yang katanya bersedia memberikan hidupnya untuk berjuang membela agama Allah. kemanakah mereka berdakwah…? ternyata Para akhwat punya lahan dakwah tersendiri, mereka berdakwah di lingkungan yang kondusif, mereka berdakwah dikampus-kampus, disekolah-sekolah (Rohis dll), dan di majelis taklim, yang notabene masyarakat disitu sudah bisa menerima dakwah. “jangan dikira…, dikampus pun masih banyak orang pinggiran lho…, orang pinggiran yang di kampus malah justru lebih kampungan daripada orang kapung beneran” begitu tandasnya ketika mencoba di singgung mengapa dakwahnya hanya berkutat dilingkungan sekolah dan kampus saja.


Bahasa sederhananya ternyata akwat jago kandang…! Berani berdakwah dilingkungan yang kondusif saja, memang ada beberapa kelompok ahwat yang belakangan ini mulai menyentuh masyarakat pinggiran - ( dalam arti sebenarnya maupun masyarakat pinggiran dilingkungan kampus) - yang identik dengan kumuh, cadas, dan tidak tahu aturan, namun jumlahnya tidak lebih dari 20% dan itu paling tidak bertahan lama, hanya beberapa bulan saja. Survey membuktikan 80 % dakwah mereka mati di tahun pertama. Pertanyaannya adalah kalua dakwah dilingkungan yang kondusif saja tidak berhasil, lalu predikat apakah yang layak untuk disanjungkan…???

Senin, 22 Februari 2010

BKT Bermasalah...???

BKT, Proyek Salah Kelola?

Jumat, 16 Januari 2009 | 00:32 WIB

Wahyu Susilo




Hari-hari ini, hampir setiap hari Jakarta diguyur hujan. Warga dihinggapi rasa waswas. Bencana banjir mungkin tinggal menunggu waktu. Ini pula yang terus ditagihkan kepada Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo, yang hampir dua tahun memimpin Ibu Kota.

Setiap kali banjir besar merendam Jakarta, hiruk-pikuk dan saling tuding mengemuka. Dan otoritas DKI selalu punya jawaban sekaligus kambing hitam: selama proyek Banjir Kanal Timur (BKT) belum selesai, masalah banjir di Jakarta tak pernah usai. Jawaban ini pula yang disampaikan kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam pertemuan dengan Gubernur DKI dan jajaran Dinas Pekerjaan Umum DKI pada 14 Januari 2009. Ini persis disampaikan hampir dua tahun lalu dalam Rapat Koordinasi Terbatas Penanggulangan Banjir Jakarta 9 Februari 2007.

BKT, solusi tunggal?

Proyek BKT selalu dianggap sebagai solusi tunggal untuk penyelesaian masalah banjir di Jakarta. Proyek ini diinspirasi dari rencana tata kelola banjir pada masa Batavia yang digagas Van Breen dan baru (akan) diwujudkan sekarang. Dengan topografi Jakarta yang telah berubah (terutama dengan pertumbuhan penduduk berlipat-lipat), rencana Van Breen tentu tak bisa ditelan mentah-mentah. Jika gagasan Van Breen ditelan mentah-mentah, akan terjadi penggusuran puluhan ribu warga Jakarta yang tinggal di jalur BKT.

Bagi otoritas DKI, proyek BKT kian urgen saat banjir besar pada Februari 2002 dan Februari 2007 merendam dan melumpuhkan Jakarta. Bahkan, dalam skema perencanaan tata ruang Jakarta, proyek pengendalian banjir merupakan salah satu fokus utama program Departemen PU dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sejak tahun 2000, di mana salah satu penyangga dana (pemberi utang) proyek ini adalah Jepang melalui skema pendanaan Japan Bank for International Cooperation (JBIC).

Secara resmi, proyek ini dicanangkan pada 10 Juli 2003 oleh Presiden Megawati Soekarnoputri dan ditargetkan selesai dalam 10 tahun. Namun, hingga hampir separuh durasi waktu itu, proyek ini masih tertahan pada proses pembebasan lahan. Dipastikan proyek ini akan molor.

Sebagai proyek yang dibiayai dari utang, proyek BKT juga layak dipertanyakan pengelolaan pendanaan, efektivitas, dan keberlanjutannya. Dari sisi perencanaan, proyek ini jelas top down, tidak partisipatif. Agenda tersembunyi dalam proyek ini adalah penggusuran sistematik area kaum miskin kota yang tinggal di sepanjang lahan proyek BKT. Paradigma emoh orang miskin selalu menjadi isi kebijakan Pemprov DKI, misalnya Perda Nomor 11/1988 tentang Ketertiban Umum dan Operasi Yustisi yang menjadi landasan legal penggusuran orang miskin dari Jakarta.

Pilihan untuk mencari sumber pendanaan proyek dari JBIC tentu didasari pada watak pendonor yang tidak terlalu mempertimbangkan dimensi HAM dalam pelaksanaan proyek. Selama ini Jepang tidak pernah merepotkan Indonesia dalam hal persyaratan utang meski utang itu untuk proyek yang berpotensi mencemari lingkungan, memarjinalisasi masyarakat adat, dan meminggirkan perempuan. Atas pertimbangan ini, Jepang tetap diharapkan sebagai pengutang ”abadi” Indonesia pasca- CGI dibubarkan.

Sebaliknya, proyek-proyek yang dibiayai dari utang Jepang biasanya disertai perikatan-perikatan yang menguntungkan Jepang. Dalam terminologi ekonomi-politik disebut tied aid, artinya proyek harus menggunakan tenaga konsultan dan peralatan yang didatangkan dari Jepang, setidaknya berbagai perusahaan yang terkait kepentingan Jepang.

Masalah menghadang

Menurut data Bappenas dan Departemen PU, dana yang dibutuhkan untuk proyek BKT Rp 4,124 triliun. Dana itu untuk pengadaan lahan Rp 2,18 triliun dan pembangunan fisik Rp 1,938 triliun. Sebagian besar pendanaan berasal dari JBIC, sisanya dana pendamping dari anggaran Departemen PU dan Pemprov DKI. Buruknya perencanaan proyek BKT mengakibatkan banyak masalah. Yang tampak adalah berlarut-larutnya pembebasan lahan yang hingga kini belum tuntas. Masalah pembebasan lahan ini kembali ditegaskan Presiden Yudhoyono dalam rapat pada 9 Februari 2007 dan pertemuan dengan Gubernur DKI Jakarta pada 14 Januari 2009. Menurut Presiden, sedapat mungkin pembahasan lahan proyek BKT tidak merugikan rakyat.

Namun, menurut Urban Poor Consortium, proses pembebasan lahan proyek BKT sarat pelanggaran HAM dan menjadi isu internasional saat organisasi nonpemerintah internasional, Habitat International Coalition-Housing Land Rights Network dan World Organisation Against Torture, melaporkan kasus ini ke Komisi HAM PBB pada Desember 2003.

Proses pembebasan lahan rentan pelanggaran HAM dan korupsi besaran ganti rugi. Setidaknya, selama proyek BKT berlangsung (meski lambat), komplain masyarakat tentang besaran ganti rugi juga berlangsung. Ini mengindikasikan, proses pembebasan lahan berpotensi terjadinya tindak pidana korupsi.

Meski proyek BKT lambat dan tak bisa diprediksi kapan selesai, Pemerintah Indonesia harus menjalankan kewajiban untuk membayar commitment fee dan mengalokasikan pembayaran bunga utang dan cicilan pokok utang proyek dalam APBN. Bahkan, kini warga Jakarta telah merasakan akibatnya dengan banjir lebih dahsyat dari banjir tahun 2002.

Dalam konsep debt management (pengelolaan utang), terbengkalainya proyek BKT merupakan contoh salah kelola utang yang jauh dari prinsip-prinsip debt sustainability dan aid effectiveness. Dan model salah kelola utang ini yang menjangkiti sebagian besar pelaksanaan proyek yang dibiayai dari utang. Dalam laporan yang ditulis Bappenas, daya serap dan pemanfaatan proyek yang dibiayai dari utang amat kecil. Sementara rakyat yang tak banyak menikmati proyek itu harus membayar mahal dengan terkurasnya APBN untuk membayar bunga utang dan cicilan pokok.

Wahyu Susilo Kepala Divisi Advokasi dan Networking International NGO Forum on Indonesian Development

Jumat, 08 Januari 2010

Batik Lasem; Campuran Budaya Cina dan Jawa


Secara umum Batik di tanah jawa di bagi menjadi dua golongan besar yaitu batik dari pesisiran salah satunya adalah batik Lasem, Cirebon, Tuban dan sebagainya. Batik pesisiran dipengaruhi oleh budaya asing hal ini disebabkan karena banyaknya orang asing yang singgah dipelabuhan. Golongan yang ke dua adalah batik dari kerajaan contohnya adalah batik Solo, Jogja, Banyumas dan sebagainya. Batik ini tidak mendapat pengaruh dari asing, demikian menurut Sigit Wicaksono salah seorang pengusaha dan pengamat batik Lasem.

Menurutnya, kebudayaan Cina paling banyak berpengaruh pada Batik Lasem. Sebagai contoh motif yang dipengaruhi oleh kebudayaan cina adalah motif yang menggunakan gambar burung hong dan pokok – pokok pohon bambu. Menurut kepercayaan Cina pohon bambu melambangkan kerukunan keluarga yang kuat.

Selain itu beliau menjelaskan Batik Lasem mempunyai 2 (dua) corak khas yaitu : Latohan dan watu pecah. Motif Latohan terinspirasi dari tanaman latoh (sejenis rumput laut) yang menjadi makanan khas masyarakat lasem sedangkan motif watu pecah menggambarkan kejengkelan masyarakat Lasem sewaktu pembuatan jalan Daendeles yang memakan banyak korban.

Hal senada juga diungkapkan oleh ibu H. Umy Jazilah Salim selaku ketua Dekranasda Rembang. Beliau mengatakan motif batik lasem banyak dipengaruhi oleh motif kebudayaan cina dengan motif – motif burung hong, naga dan lain – lain.

Melestarikan Batik

Beliau juga mengatakan untuk melestarikan Batik sebagai salah satu warisan budaya Indonesia seperti yang ditetapkan oleh UNESCO 2 Oktober 2009, seluruh karyawan Pemkab Rembang diwajibkan menggunakan pakaian Batik setiap hari kamis dan jum’at. Hal lain untuk mempromosikan batik adalah dengan mendirikan showroom batik dan showroom dekranasda. Beliau mengharapkan dengan berdirinya showroom – showroom ini dapat membantu pengrajin batik untuk memamerkan produknya. Selain itu Kerajinan Seni Batik juga dimasukkan dalam kurikulum mulok (muatan lokal) SLTA yang berpusat di showroom batik Lasem.

Sedangkan menurut Kepala Dinas Indakop dan UMKM Bapak Drs H Waluyo MM, pihaknya akan terus mengupayakan untuk melestarikan Batik Lasem. Deprindakop dan UMKM bekerjasama dengan dekranasda memfasilitasi para pengrajin untuk mengikuti event – event batik nasional, seperti event yang diselenggarakan oleh Yayasan Batik Indonesia (YBI) belum lama ini dan pameran yang diselenggarakan oleh UNESCO awal bulan Oktober. Waluyo juga menjelaskan pihaknya akan mengadakan pameran batik lasem setiap beberapa tahun sekali di kota – kota besar Indonesia seperti Semarang, Jakarta atau diluar jawa bahkan bila memungkinkan mengikuti eksibisi diluar negeri seperti singapura. Selain itu beliau juga mengusulkan kepada Bupati Rembang melalui Sekda Rembang untuk mendirikan museum batik lasem supaya semua kegiatan batik di Lasem dan sekitarnya dapat didokumentasikan dengan baik dan sekaligus menjaga agar kultur batik Lasem tidak lepas dari generasi ke generasi.


Dikutib dari : http://rembangkab.go.id/

Rabu, 11 November 2009

komputerisasi otak

Hmm, supaya pinter ya belajar mas hehehe. Kalau dosen jawab seperti itu pasti disebut basbang alias basi banget :) Diskusi masalah kecerdasan manusia, tentu tidak bisa tanpa menyinggung masalah otak manusia, karena disini awal segala kisruhnya. Kapasitas otak manusia sangat besar, bahkan ada yang menyebut tidak terbatas. Hanya sayangnya orang biasanya hanya menggunakan 1% dari otaknya, sedangkan orang jenius berhasil menggunakan 4-5% otaknya. Lha kok bisa? Dan bagaimana supaya kita juga bisa jadi cerdas? Ikuti terus tulisan ini.

Otak manusia tersusun dari neuron-neuron yang jumlah totalnya mencapai 1 trilyun. Walaupun kecil, konon kabarnya satu neuron itu memiliki kecepatan pemrosesan yang setara dengan satu unit komputer. Adam Kho lewat bukunya “I am Gifted, So Are You” mengatakan bahwa otak itu apabila dituliskan dalam bentuk digital akan menjadi tulisan sepanjang 10.5 juta kilometer. Ketika jarak terjauh bumi dan bulan itu sekitar 406.720 km, maka kapasitas otak kita setara dengan 25 kali perjalanan dari bumi ke bulan. Tambahan informasi lagi, dari buku Super Great Memori dikatakan bahwa, jika setiap detik dimasukkan 10 informasi kedalam otak kita sampai 100 tahun, maka otak manusia masih belum terisi separuhnya. Ada beberapa peneliti yang mencoba mengkuantifikasi kapasitas otak, ada yang menyebut 3 terabyte, dan ada juga yang menyebut mencapai 1000 terabyte.

Sedemikian dahsyatnya kapasitas otak kita, tapi sayangnya kita hanya menggunakan kurang dari 1%nya. Dan orang jenius seperti Albert Einstein, konon kabarnya juga hanya menggunakan 5% dari seluruh kapasitas otaknya.

Artinya apa? Manusia memiliki kapasitas otak yang sama, yang implikasinya adalah sebenarnya kita semua memiliki daya tangkap terhadap suatu materi pembelajaran sama. Dan tidak ada manusia bodoh di muka bumi ini!

Lha kok, tapi di kelas ada yang cerdas dan ada yang tidak? Itu karena sistem retrieval (pencarian kembali) manusia berbeda-beda. Orang yang cerdas itu adalah orang yang memiliki sistem retrieval yang baik. Seperti sebelumnya saya sebutkan diatas, kapasitas otak manusia mungkin mencapai 1000 terabyte, bayangkan seandainya laptop kita berkapasitas 1000 terabyte, pasti lambat melakukan pencarian file, apalagi kalau letak fisik filenya tidak tertata dengan baik alias terpecah-pecah di berbagai tempat dalam harddisk kita.

Trus gimana caranya supaya sistem retrievalnya bagus? Ada banyak cara komputasi yang bisa dilakukan, paling tidak untuk mengatasi informasi yang tidak tertata dengan baik, kita menggunakan tool defragmenter. Defragmentasi? ya, lakukan defragmentasi pada otakmu!

Sebagai catatan, kata wikipedia, defragmentasi adalah sebuah proses untuk menangani berkas-berkas yang mengalami fragmentasi internal. Sebuah berkas dikatakan terfragmentasi mana kala berkas tersebut tidak menempati ruangan yang saling berdekatan dalam penyimpanan fisik. Fragmentasi dapat menyebabkan subsistem media penyimpanan melakukan operasi pencarian data yang lebih banyak, sehingga dengan kata lain berkas terfragmentasi dapat memperlambat kerja sistem, khususnya pada saat melakukan operasi yang berkaitan dengan media penyimpanan.

Jadi ketika kita menerima materi pelajaran, sebenarnya kita semua berhasil menangkap semua yang diajarkan oleh guru atau dosen kita. Namun ada yang kita simpan di bumi dan ada yang terlempar di bulan, inilah yang disebut dengan fragmentasi itu.

Trus gimana caranya supaya kita bisa mendefragmentasi otak kita? Caranya adalah dengan mengulang-ulangi pelajaran. Mengulang-ulang pelajaran, itu sama saja dengan menarik materi yang terlempar di bulan tadi supaya mendekat ke bumi, sehingga lebih cepat ketika kita mencari kembali. Dan ini sesuai dengan yang dikatakan Adam Kho, bahwa orang yang cerdas adalah orang yang neuron-neuronnya saling tersambung (neuron-connection). Semakin banyak hubungan antarneuron, maka semakin cerdas kita dalam suatu bidang. Kecerdasan itu bisa kita latih!

Sayapun tidak terlahir secara default sebagai orang cerdas, masa TK-SD saya pernah mengalami kendala sulit membedakan huruf b dan d. Sampai ada satu ungkapan guru saya yang masih saya ingat sampai sekarang, “Rom, b itu yang bokong(pantat)nya dibelakang, dan d itu yang bokongnya di depan“. Ada juga guru yang menyebut saya terkena disleksia kompleks, plus ditambahi dengan anak yang suram masa depannya hehehe sempurna deh :)

Jadi? Kalau saya yang disleksia kompleks saja bisa, kenapa anda tidak? :)

Wahai pedjoeangku, ulang-ulangi pelajaran, banyak mencoba, banyak membaca, banyak berlatih, telani satu persatu hal yang belum kamu pahami, hubungkan neuron-neuronmu, maka kecerdasan akan mengikutimu …

Tetap dalam perdjoeangan!

ttd-small.jpg

Senin, 05 Oktober 2009

Kisah Seorang Pengais Nafkah


Jumadi... Begitulah kebanyakan orang menyapa serta memanggil pedagang kakilima di alun-alun kota Rembangini, meski tiap hari harus mengais uang receh dari orang - orang yang lewat di sekitar alun-alun kota Rembang, berpayung langit dan beralaskan konblock tak sepatah katapun yang keluar dari mulutnya untuk menyesali kehidupannya, malah justru sebaliknya ia sangat bangga dengan pekerjaannya itu, meski menurut sebagian orang pekerjaannya itu pekerjaan yang kurang pantas... berjiwa besar, serta konaah (nerimo ing pandum) jiwa inilah yang layak kita tiru dari sosok Jumadi seorang pedagang barang bekas.
"yah... itu kan kata mereka yang belum tahu bahwa pekerjaan ini sebenarnya menawarkan keuntungan yang cukup luar biasa" begitu tandasnya sambil tertawa lebar.bagaimana tidak... dari pekerjaan ini ia mampu menikah dengan dua orang wanita dan memiliki tiga orang anak.

jika kita kaji lebih jauh memang pekerjaan jumadi ini yaitu berjualan barang bekas mempunya pangsapasar yang cukup baik di daeranh Kab. Rembang, mengingat belum ada orang yang mengambil posisi ini, sedangkan perekonomian rembang bisa dibilang perekonomian menengah kebawah, sehingga masyarakat kurang memperhatikan kualitas, titik berat masyarakat adalah pada murahnya harga.

Hanya saja seringkali pemerintah negeri ini kurang tanggap terhadap hal semacam itu, sehingga yang terjadi pengusaha-pengusaha semacam jumadi ini berurusan dengan polisi pamong praja sebagai aparat penertiban kota, pemerintah negeri ini lebih suka menggadaikan nasib pengusaha-pengusaha muda seperti jumadi, hanya dengan alasan untuk kebersihan dan keindahan kota, pemerintah telah melupakan bahwa sesungguhnya dari merekalah perekonomian bergerak, karena mereka memiliki secerca harapan atas jiwa pantang menyerahnya.

Hal itu dituturkan jumadi disela - sela pertemuanya dengan kami ditempat ia membuka lapaknya yaitu di alun-alun kota Rembang, ia sangat lugas sekali membeberkan rahasianya bisa menjual dengan harga murah bahkan sampai ditunjukkan tempat ia mengambil barang, hal ini sangat jarang sekali kita temukan pada pedagang - pedangang lain, pada umumnya para pengusaha merahasiakan trik untuk bisa menjual murah apalagi sampai menunjukkan tempat pengambilan barangnya.

jiwa tidak minder dan pantang menyerah seperti inilah yang sebenarnya perlu untuk dimiliki oleh kaum pengusaha muda indonesia dimasa depan, sosok seperti Jumadi dewasa ini mulai sulit ditemukan kebanyakan dari kaum muda anak bangsa kita setelah menyelesaikan pendidikannya dibangku sekolah tujuannya adalah melamar pekerjaan kesebuah badan usaha atau kalau bisa jadi pegawai negeri sipil, jarang sekali bahkan hampir tidak ada dari anak bangsa kita ini yanbg setelah tamat sekolah ingin menjadi pengusaha, kalaupun toh ada bukannya menjadi pengusaha yang membumi melainkan menjadi pengusaha yang melangit, artinya punya konsep dan keinginan yang tinggi untuk jadi pengusaha namun hanya sebatas konsep dan angan - angan, sehingga yang sering terjadi adalah malu jika harus melakukan aktivitas yang sifatnya terjun kelapangan (seperti yang dilakukan Jumadi) kebanyakan dari anak bangsa kita berangan -angan bahwa pengusaha itu duduk manis diruang ber-AC, ya mana ada...??? mungkin bisa saja terjadi tapi hal itu hanya akan terjadi jika kemampuan untuk menjadi pengusaha itu merupakan kemampuan turunan.

Senin, 07 September 2009

pembangunan jalur PANTURA


H-7 Pelebaran Jalan Pantura Selesai PDF Cetak E-mail

Rembang-Arus Mudik dan Balik Hari Raya tahun ini di jalur pantura timur khususnya di kabupaten Rembang nampaknya akan semakin lancar. Pasalnya saat ini beberapa ruas jalan tengah dilebarkan dari semula 7 meter menjadi 11 meter. Diharapkan menjelang arus mudik dan balik, pekerjaan telah rampung diselesaikan, sehingga tidak mengganggu pengguna jalan.

Firdaus Selaku penanggung jawab pekerjaan pelebaran jalan, Mewakili perusahan Jaya Konstruksi salah satu konsorsium pelaksana proyek pelebaran jalan menjelaskan, saat ini hingga H-7 sebelum Hari Raya Idul Fitri, pekerjaan proyek pelebaran jalan jalur pantura timur Rembang telah dikebut oleh pelaksana. Sebelumnya mereka berencana menghentikan pekerjaan untuk sementara pada H-10, namun atas masukan saat kapolda Jawa tengah-Irjen Alex Bambang Riatmojo memantau proyek pelebaran jalan pantura timur, melarang menghentikan pekerjaan pada H-10.

Kapolda juga menginstruksikan pekerjaan baru boleh berhenti H-7, pada kondisi seluruh jalan yang dilebarkan telah diaspal dan alat berat yang digunakan disingkirkan dari jalan untuk memperlancar arus mudik dan balik. Pelebaran jalan di jalur pantura timur merupakan proyek nasional yang bertujuan membuat jalan menjadi lebar dari semula 4 lajur menjadi 8 lajur. Dari jalan raya Rembang sekitar 60 kilometer pada tahap awal dikerjakan 48 kilometer. Menurut estimasi pelaksana proyek, hingga H-7 sebelum lebaran, pekerjaan telah diselesaikan sekitar 30%. Sisanya diselesaikan pasca arus mudik dan balik berlangsung.

Rabu, 12 Agustus 2009

Benarkah Nurdin M Top Ada...?


Perburuan terhadap terororis terus dilakukan, tapi hingga kini tokoh yang disebut sebagai orang paling dicari Nurdin M Top hingga kini belum dapat ditemukan apalagi ditangkap. Entah karena Apa..., apakah karena lihainya Nurdin ataukah karena lemahnya Densusus 88, atau justru memang sebenarnya Nama Nurdin M Top itu tidak ada...?. Bisa jadi Memang tokoh yang disebut dengan nama Nurdin itu memang sebenarnya tidak ada atau dengan bahasa lain hanyalah tokoh rekaan, dalam rangka memberikan penjelasan kepada publik serta dalam rangka lemahnya sistin keamanan negara kita sehingga negeri ini mudah diobok-obok orang -orang dari luar..., bagai mana bisa ketemu..., la wong sebelum Bom diledakkan tersangka sebenarnya telah menghindar ditempat seaman mungkin, bisa jadi orang - orang yang tertangkap CCTV itu memang orang - orang yang sudah dibayar untuk sekedar mengalihkan perhatian, dalam arti kata orang yang tertangkap CCTV bukanlah tokoh sebenarnya, melainkan hanyalah tokoh bayangan.

Nurdin M Top... ya anggap saja kita percaya bahwa tokoh itu memang ada (terlepas dari rekayasa ataupun sebenarnya)lantas yang menjadi pertanyaan, apakah memang benar Nurdin sehebat itu...? seorang yang notabene tamatan unuversitas Teknik malaisia bisa merakit bom sehebat itu...? lagi pula untuk mendapatkan bahan peledak tidaklah semudah membeli terasi di pasar, dengan kata lain tentu ada yang memfasilitasi Nurdin untuk mendapatkan bahan peledak, lebih anehnya lagi pada Bom bali pertama, yang telah dapat diidentifikasi bahwa bahan peledaknya adalah C4, dimana bahan peledak jenis itu hanya dimiliki dan di produksi oleh negeri paman syam, namun kenapa penyelidikan tidak mengarah kesana...? ada motif apa sebenarnya dibalik kasus teroris selama ini...? terserah mau menggunakan motif apapun yang jelas Wallahu Khorul Makiriin...